Kamis, 30 Juli 2015

Uraian Sejarah Kita dari Eropa

0
Tidak bisa dipungkiri bahwa penulisan sejarah dan analisis kebudayaan tentang negeri kita didominiasi oleh penulis luar, khususnya Eropa (bisa dicek dalam berbagai buku tentang bangsa kita dari berbagai penerbit). Penelitian tersebut sudah dimulai dari orang-orang eropa sejak berabda-abad yang lalu. Barangkali ketika kesadaran tentang kekayaan historis dan kultur bangsa kita belum disadari oleh penduduknya sendiri.

Berbagai negara mengirim para peneliti untuk melaporkan segala hal tentang bangsa kita di berbagai daerah. Pengutusan tersebut dilakukan secara resmi dan mendapat dukungan penuh dari pemerintah. Para peneliti mengerahkan seluruh kemampuan mereka untuk mempersembahkan informasi tentang daerah penelitian mereka kepada bangsanya sebagai bentuk pengabdian.

Manuskrip mereka berabad-abad yang lalu itu kini sudah banyak yang diterbitkan dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Banyaknya buku sejarah yang sudah diterbitkan dalam bahasa Indonesia tersebut nyatannya tidak semerta-merta menghilangkan kebutaan sejarah rakyat Indonesia tentang bangsanya sendiri (hal tersebut menjadi salah satu kekecewaan para ahli sejarah). Kurangnya daya baca dan keingintahuan yang rendah terhadap sejarah bangsanya sendiri menjadi faktor sentral butanya rakyat pada sejarah.

Meskipun sesungguhnya masih banyak manuskrip sejarah Nusantara yang tidak dipublikasikan karena faktor politik. Para ahli sejarah bangsa tentu menyayangkan hal tersebut. Meski barangkali disisi lain juga gemas dengan rakyat Indonesia yang tidak punya perhatian besar terhadap sejarah. Kurangnya perhatian tersebut menjadikan para ahli sejarah seolah tidak mendapat dukungan untuk mengungkap lebih banyak lagi data-data dan rahasia nusantara yang selama ini belum terungkap.

Di sisi lain kita harus berterima kasih pada orang-orang Eropa yang telah mendedikasikan hidup mereka untuk meneliti Nusantara. Meski sesungguhnya penelitian tersebut dilakukan dalam rangka tugas negara dan tidak dipersembahkan untuk bangsa kita. Akan tetapi, disisi lain kita juga harus “geram” dengan penelitian yang berpotensi tidak netral dan tidak faktual.

Kita tidak punya keyakinan secara utuh terhadap penelitian mereka tentang bangsa kita. Ada potensi tendensi politik yang dibawa. Hal tersebut diungkapkan oleh Denys Lombart, penulis Prancis yang mengatakan bahwa peneliti-peneliti utusan negara berpotensi membawa urusan politik untuk menguatkan sebuah pandangan tentang sebuah daerah atau membuyarkan pandangan tersebut dengan pandangan baru.

“Lagi pula Snouck Hurgronje tidak menyembunyikan tujuannya yang dijelaskan terus terang dalam kata pengantarnya. Maksudnya supaya hapuslah pandangan baik yang mungkin bisa timbul dalam benak orang Eropa mengenai “negara perompak laut sejak dulu” itu (Aceh); maksudnya supaya bukunya bisa membenarkan politik yang dijalankan Negeri Belanda.” (Denys Lombart, Kerajaan Aceh {Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636)}, KPG, Cetakan ke-IV, Desember 2014).

Sekali lagi, sesungguhnya kita harus berterima kasih atas berbagai data peneliti dari bangsa lain dalam penelitian yang mereka lakukan. Dan juga geram dengan penyalahan sejarah yang dilakukan dengan sadar oleh para peneliti tersebut.

Sayangnya kita sendiri tidak punya banyak wakil penulis sejarah yang mumpuni untuk membuka mata kita tentang betapa hebat dan fantastisnya bangsa kita. Oh, atau barangkali karena keingintahuan kita yang rendah pada sejarah bangsa kita sendiri sampai-sampai orang Indonesia malas jadi peneliti sejarah?

Salam









Di perpustakaan Leiden, Belanda, ada beberapa lantai atas yang disinyalir menyimpan banyak data dan menuskrip Nusantara. Juga curigai ada tulisan-tulisan tokoh bangsa yang dicuri dan dirampas oleh para koloni Belanda pada zaman penjajahan. Sayangnya hanya orang-orang khusus yang boleh memasuki ruangan tersebut, orang Indonesia tidak diperkenankan! Sayang sekali.

Minggu, 12 Juli 2015

Amnesia (2)

0
Selamat datang. Seharusnya aku, atau kamu yang mengatakan itu? Aku tak tahu. Tapi sekarang sudah tak lagi penting. Sudah terlanjur aku duluan. Aku kira kamu pun akan mengatakan hal yang sama jika bisa mengatakan pertama kali, andai bisa bicara. Aku datang kemari membawa cerita dan alasan-alasan. Pertama, karena aku hidup. Yang kedua, karena aku akan mati. Maka aku menulis.
Mungkin terdengar janggal, tapi itu yang diajarkan ibu. Dan Bapak pun menganggukkan kepala. Bagi orang pribumi, itu tanda setuju. Sebab ayahku bukan orang india, juga bukan keturunan negeri Mahatma Gandhi tersebut yang menganggap mengangguk adalah tanda tidak setuju. Juga bukan bangsa Arab yang menganggap menggelengkan kepala sebagai tanda setuju. Soal ini, aku tau ini dari buku. Benar tidaknya, aku belum bertemu dengan mereka langsung.
“Kalau ingin abadi, kamu harus menulis, nak.” Begitu kata Ibu.
Mula-mula, aku mengedipkan mata, sambil sedikit memiringkan kepala, sebagai tanda berpikir. Tapi seorang Ibu, sekalipun anaknya diam, tetap akan tahu bagaimana gejolak dalam hati anaknya. Dan itu terjadi pula pada Ibuku. Ia memang seorang Ibu sejati. Ia lantas menerangkan, mengerti bahwa anaknya tidak paham. Benar-benar ibu yang sempurna.
“Andaikan tak ada Injil, Taurat, Zabur, atau Al-Qur’an yang menerangkan Adam. Ia mungkin tak akan pernah dikenal sampai kini, hari dimana mungkin dunia hampir berakhir. Dan ia masih hidup dalam cerita-cerita yang dibawa manusia. Juga andaikan cerita Fir’aun tak pernah tertulis. Mungkin nasibnya akan sama seperti buyutmu. Tidak ada riwayatnya sama sekali”
Bapak yang mendengar itu mengangguk.
Alasan itulah yang kini menjadi alasan orang tua ini menulis sampai sekarang. Kehidupan tanpa karya adalah kehidupan yang kosong. Seolah kau tidak pernah menjejakkan kakimu sama sekali pada kehidupan. Bagaimana tidak? Kau hidup. Melakukan sesuatu yang tidak berarti. Lalu mati, apa yang dikenang dari hidupmu. Tidak ada!
Orang tidak perlu amnesia untuk begitu saja menghapusmu dari memori mereka sebab kau hidup hanya berjalan tanpa berbuat sesuatu. Kamu hidup untuk dirimu sendiri dan tidak pernah perduli dengan orang lain. Kau tau seorang aristoteles, dengan filsafatnya yang didewa-dewakan oleh banyak orang itu, andaisaja ia tidak menulis, dan ditulis kata-katanya oleh orang lain, tentu jejak peninggalannya tidak sampai kini. Tapi jika kamu tidak menulis, siapa yang akan menuliskan kekayaan intelektulitasmu sebab orang lain tidak pernah tau apa yang ada dalam isi otakmu. Yang tau adalah kamu sendiri, dan rekamlah otakmu dalam tulisanmu.
Itulah alasanmu tidak berhenti disini dan menyerah pada kesulitan yang akan kau hadapi dalam menulis. Kau tidak akan meraih apapun dari ketikuatanmu menghadapi masalah. “Jika kamu tak tahan dengan lelahnya belajar, maka kamu harus tahan menanggung perihnya kebodohan”.
Ini persembahan awal untuk kedatanganmiu ke jakarta, maaf, aku hanya bisa mengirim surat ini kepadamu. Aku sempat-sempatkan. Sebulan ini, aku akan berada di Paris. Kau bisa mengirimiku email jika ada sesuatu yang kau butuhkan. Aku terakan alamatnya dalam suratku ini. Aku melihat ada taring di gigimu, dan cakar dalam tanganmu. Jika hanya untuk kau buat tidur, diam, menangis dan tersenyum untuk dirimu sendiri. Sungguh, itu lebih baik kau tak pernah hidup sama sekali!

Subakir
***

Dan segera aku melirik jam dinding, jam 1 pagi. Mata merah ini tak lagi bisa diajak menulis. Sudah tertidur, tertidur beberapa kali. Tak kuat lagi. Aku matikan laptop dan segera aku rebahkan tubuhku. Surat Bang Kia tadi pagi membuatku benar-benar berkobar. Tidak bisa aku jika harus membantah dan memang tidak punya argumentasi untuk membantah suratnya. Aku yakini tulisan itu adalah tulisan yang ditulis dengan hati. Tapi untuk apa menuliskan surat seindah itu untukku? Apa istimewanya?
Barangkali memang hal wajib untuknya menuliskan hal-hal demikian pada anggota barunya. Barangkali?!
***

“Bukan, Bukan. Aku tahu Bang Kia bukan tipikal seperti itu. Aku tau ia terbuka, tapi ia tidak biasa menyambut orang-orang baru seperti apa yang ia lakukan padamu!”
Itu jawaban Jhon ketika aku sodorkan surat dari Bang Kia dan aku tanyakan padanya kira-kira untuk apa?
“Lalu?”
Ia hanya mengangkat bahu. Aku ikut mengangkat bahu lalu kembali menyendok nasi pecel di depanku.
“Sudah kau buang itu masa lalu?” Tiba-tiba Jhon membuka suara. Dan yang ia suarakan adalah tema yang sama sekali tidak ingin aku singgung sampai semua benar-benar tak berbekas. Aku memilih diam dan meneruskan makanku. Ia pasti mengerti aku tak ingin hal ini diungkit kembali.
Bukan diam, ia malah menambahnya.
“Kau harus banyak belajar untuk tidak terlalu keras menghapus. Itu akan sia-sia”
Kini aku pandangi matanya, dengan tatapan geram. Dan kini ia paham.


“Kita sedang makan, jangan biarkan kelaparan ini hilang dan berubah kegeraman!” Begitu mataku berkata.

Selasa, 07 Juli 2015

Anak SD Berumur 55 Tahun

1

Anak SD, nak. Berumur 55 tahun. Kau bisa bayangkan bagaimana perasaan ngilu itu harus kau tanggung andaikata kamulah yang menjadi korban kengerian itu. Seorang istri dan anak yang bahkan sudah lebih dahulu lulus SD. Dengan rambut beruban, ia melangkahkan kaki mantab. Berangkat sekolah.

Sebuah falsafah yang mungkin sering kau dengar, nak. Bahwa belajar tidak mengenal umur. Berapapun umurmu, selagi kau hidup, haram kau tak belajar kecuali otakmu sudah tak berfungsi. Barangkali akan kau kau kait-kaitkan dengan kejadian seorang bapak-bapak bak anak SD yang datang dengan keyakinan dan langkah pasti untuk menjemput kertas bernama ijasah demi sebuah legalitas kerja. Tapi kejadiaanya tidak demikian. Akan aku ceritakan. Hapus peluhmu, nak. Siapkan nafasmu untuk kau hela atas cerita yang aku baca dari downloadtan koran gratis yang baru saja aku temukan linknya ini.

Ia tak memakai baju putih dengan celana pendek berwarna merah khas anak SD. Jangan kau bayangkan seperti itu, nak. Ia menggunakan baju kemeja kotak abu-bau yang kusam dan lusuh. Bayangan seperti itu untuk anak SD cukuplah menjadi gambaran untuk menghela panjang nafasmu. Tak perlu bayangkan “anak” setua itu akan menggunakan celana pendek ala anak SD.

Ia datang untuk mengisi lembar pertanyaan ujian yang sederajat anak SD, nak. Seorang penjaga sekolah yang kini harus dihadapkan dengan kanyataan bahwa ia harus ikut kejar paket A (SD) untuk bisa melanjutkan kerjanya yang sudah ia tekuni bertahun-tahun itu. Paket itu adalah kompensasi minimal agar pekerjaan yang sudah menjadi rutinitasnya itu bisa tetap ia pegang. Dengan paket itu pula, ia bisa naik pangkat, sebagai pegawai tetap.

Legalitas semacam itu, nak, yang kadang membuat Pak Lek-mu ini naik pitam. Kertas yang bisa dibakar itu membuat orang tua sepertinya harus rela mempertaruhkan gengsi menjadi anak SD agar bisa tetap bekerja dan menghidupi keluarga. Pikir, nak. Coba pikir lebih jernih. Ini akan menggamblangkan hanya ijasah hanya sekedar sertifikasi kebohongan atas prestasi dan nilai.

Orang setua itu. Seorang bapaaaaaaak!!!!! Bayangkan!!!!! Ia sudah menjaga sekolah bertahun tahun dengan kekeliruan yang minim atas pertanyaan kehidupan yang ia hadapi. Ternyata sama sekali tidak menjadi bukti bahwa ia bahkan memiliki kapabilitas untuk sekedar lulus SD, atau bahkan lebih tinggi dari itu.

Jika ia adalah seseorang yang keliru menjawab profesionalitasnya sebagai penjaga sekolah, dengan sering membuat kesalahan misalnya, tentu ia sudah dikeluarkan sejak lama. Kalau ia membuat masalah besar dan atas dasar sungkan lalu pihak sekolah membiarkannya tetap bekerja. Seharusnya legalitas bahwa penjaga sekolah harus berijasah SD  juga harus dienyahkan untuk melindungi aibnya sebagai orang tua atas dasar sungkan pula. Ini tidak masuk akal.

Kejujuran, loyalitas, dan pengabdian bertahun-tahun itu ternyata tidak semert-merta menciptakan asumsi formal, bahwa sesungguhnya ia lebih berderajat dari lulusan kuliah. Bukan hal mudah untuk menjadi seorang loyalis dan tetap menjaga kejujuran di bawah tekanan keadaan yang pasti muncul. Dan faktanya, akal ala universitas mancanegara orang-orang di luar sana ternyata tidak mampu untuk menjadi seorang loyalis dan pengabdi yang baik. Koruptor bermilyar dan bertrilyun-trilyun itu, tidak ada datang dari latar belakang otak SD. Dan ternyata toh korupsi.

Kau tau, nak. Loyalitas dan kejujuran seseorang yang tidak tersertifikasi dengan lembar kertas pengakuan apapun itu jauh lebih baik dari pengekuan formal yang diakui, tapi ternyata hanya sekedar kebohongan belaka!

Salam


Minggu, 05 Juli 2015

Perekat Kedamaian Maluku

6

Sudah kita lihat dengan deraian air mata dan hati yang ngilu. Peristiwa tumpahnya darah konflik Maluku yang pilu. Kerekatan bertahun-tahun yang terjalin tiba-tiba terlepas dan cucuran darah tak terelakkan. Konflik agama pecah, nyawa-nyawa dan luka-luka berjatuhan.

Sudah kita lihat, dan kita kenang dengan memori yang menghanguskan ribuan rumah dan milyaran materi. 10 tahun pasca kedamaian konflik agama di Maluku yang berlarut-larut. Satu tahun sebelum lahirnya abad milenium, anak-anak disuguhi air mata dan kerap berjumpa Izrail yang intens datang untuk mencabuti nyawa-nyawa manusia di sana dengan berbagai cara. Anak-anak gemetaran sendiri tanpa ibu, tanpa mainan, tanpa celana melihat Izrail memainkan nyawa.
http://www.nyunyu.com/
Itu cerita lalu, pergumulan dua agama yang kini mulai menyatu kembali. Tak akan kau sangka dan kau nyana bahwa tukang ojek dan pedagang keliling (papalele) adalah penyejuk dari panasnya keadaan. Deklarasi Malino yang diprakarsai oleh wakil presiden tahun itu yang kini kembali duduk kembali di kursi yang sama sesungguhnya hanya sekedar formalitas. Perekat sesungguhnya adalah sosok yang sudah aku katakan, tukang ojek dan papalele. Mereka berubah menjadi sangat arif dan paham keadaan.

Persoalan nyala dapur adalah sumber dari kesadaran bahwa permusuhan hanya akan menghambat gizi isi perut. Tukang ojek dan pedagang kelilinglah yang pertama kali memilih untuk menyatu dan mengais kembali rezeki yang selama ini berceceran.

Pedagang keliling adalah bagian dari kasta tidak tersentuh yang dianggap tidak memiliki potensi untuk menyulut permusuhan hingga mereka bisa keluar masuk dari daerah konflik dengan mudah. Kesempatan keluar masuk daerah itu pula yang dengan naluriahnya menjadikan para papalele sebagai negosiator ulung dengan berpartisipasi mendinginkan keadaan.

Kebebasan keluar masuk daerah konflik tidak terjadi pada tukang ojek. Tapi dengan itu pula, mereka menyiptakan “koalisi” yang spesial. Rute kadang dilewati adalah rute konflik, hingga tidak mungkin mereka masuk ke daerah tersebut. Dan ojek estafet (oper dengan ojek dari daerah lain) akhirnya menjadi pilihan. Cara tersebutlah yang menyiptakan terjalinnya hubungan baik tukang ojek antar daerah konflik.

Melihat kerekatan yang terjalin dari tukang Islam dan Kristen itulah, orang-orang mulai sadar, “Bagaimana mungkin tukang ojek bisa melepaskan dendam, dan kita tidak?” Sampai akhirnya orang-orang satu persatu memilih untuk menyatu kembali.

Satu pelajaran yang harus kita ambil adalah, bahwa setiap kasta punya cara dan sistem untuk menjadikan kehidupan bermanfaat. Barangkali kita tidak punya pandangan bahwa pedagang keliling dan tukang ojek bisa manjadi jembatan terciptanya kedamaian. Dan itu pula, yang harus menjadi motivasi dengan posisi kita beragam, bahwa kita punya potensi dengan cara kita untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan.

Salam

Selasa, 17 Februari 2015

Vidi - 1

0

“Semua akan berjalan semestinya, saat kita dipertemukan oleh takdir kita masing-masing dengan cara Tuhan yang akan kau sebut sebagai “Jalan Tuhan”. Ingatlah, aku juga adalah ciptaan Tuhanmu. Semua akan dijujurkan oleh Tuhan kita. Percayalah”.
            Sepenggal kalimat yang kini masih terus saja membekas dalam beberapa bagian memori Ays setelah beberapa malam yang lalu bermimpi bertemu dengan seorang yang tak dikenalnya. Seorang lelaki tanpa nama, tanpa identitas, dan tanpa ia kenal begitu saja muncul dalam mimpinya malam itu. Mimpi yang membekas dan selalu mebuatnya ingin tahu siapakah sebenarnya lelaki tanpa nama itu.

Senin, 02 Februari 2015

Amnesia (1)

0


Mungkin benar kata orang. Tak ada sunyi di Jakarta. Aku merasakannya kini. Meski tentu tidak masuk kategori sunyi mencekam yang mengerikan seperti halnya pembunuhan, pencopetan, penipuan, korupsi. Meski memang mencekam bisa saja digolongkan tanpa suara, seperti sunyi. Tapi ia memiliki makna yang jauh berbeda.
Aku mulai tak perduli, sunyi atau tidak. Yang pasti aku tak terganggu oleh masa lalu yang pernah diungkit-ungkit dalam sebuah pertemuan tempo hari, yang sebenarnya entah disengaja atau tidak. Yang pasti pertemuan itu sudah menciptakan persepsi-persepsi baru yang jauh berbeda dengan persepsi yang selama ini aku pegang.
Tak apa, ini sudah terjadi, dan tak bisa terulang. Akupun sudah menentukan pilihan jauh hari untuk tak kembali ke lubang yang sama, lubang yang kini jauh lebih buruk. Dan tak ada berbenah, meski banyak keadaan yang menyudutkannya dalam kehidupan. Banyak kepahitan yang menghampirinya. Semoga ia cepat berubah setelah aku pergi, lagi.
Jakarta, oh jakarta. Terlalu banyak pameran gedung menjulang diantara rumuh-rumuh kumuh tak layak huni. Toleransi yang mengagumkan. Orang miskin yang tak pernah punya niat mengusik keadaan orang kaya yang sedemikian mapan. Dan orang kaya yang tak perlu merasa perduli dengan keadaan tetangga yang berantakan.
Tak banyak yang aku inginkan disini, ingin tau bagaimana pusat kehidupan Indonesia. Interaksi antar manusia, kehidupan sehari-hari. Satu hal lagi, aku ingin tenang menulis, ketenangan menulis bersama penulis. Sebuah hal yang tidak aku dapat di tempat sebelumnya. Aku sudah janjian dengan seorang wartawan yang siap menampungku disini. Mengenalkanku kepada banyak penulis, sekaligus penerbitnya. Ya, aku tau hal tersebut bukan hal sulit untuk seorang wartawan.
Sehari sampai, Wartawan sahabatku itu –Namanya Jhon- mengajakku bertemu dengan sebuah komunitas penulis di Ibukota. Tulisan mereka sudah dibaca oleh banyak orang dan sering jadi best seller. Aku kenal wajah-wajah mereka, beberapa. Dan beberapa lagi, masih tampak asing. Hari itu, tepat hari dimana pertemuan terjadwal diadakan. Mereka menyebutnya “Key Idea”, pertemuan diskusi dan sharing banyak hal tentang banyak hal. Sebuah pertemuan penulis ibukota yang diadakan dua minggu sekali.
Tempatnya sederhana, sebuah perpustakaan pemilik toko buku ternama di Jakarta. Ia memodali seluruh kegiatan pertemuan yang diadakan para penulis ini. Di dinding-dinding ruangan penuh dengan poster kata-kata mutiara.
“Riki, riki” Begitu aku memperkenalkan diri kepada semua yang ada disana. Tak ada sebuah perkenalkan resmi, hanya berjabat tangan. Dan aku pun tak mengingat satu persatu nama orang yang aku salami. Tak ingin sibuk-sibuk mengingat. Mereka terlalu banyak, ada sekitar 70 orang. Beberapa sudah aku kenal, dari buku mereka. Yang lain, suatu saat aku akan mengenal mereka, bukan dengan mengingat nama mereka ketika berjabat tangan.
“Sudah? Dimulai?”
Itu yang aku dengar. Seorang laki-laki berjaket hitam dengan topi abu-abu menjadi pusat perhatian. Kia, penulis senior yang kerap menulis kritik-kritik terhadap pemerintah lewat cerpen yang sering muncul di media masa. Tajam, keras, tapi tak pernah membiarkan pembaca tak tersenyum dengan tulisannya. Selalu ada komedi yang ia selipkan.
Kia {Aslinya Subakir. Orang madura. Logatnya masih sedikit kaku mengucapkan bahasa Indonesia. Lidahnya terlalu lama tinggal di Madura. Soal nama Kia, ia sendiri tak tahu sejak kapan mulai mendapat nama itu. Yang pasti sejak kelas 3 SD sudah dipanggil Kia oleh teman-temannya. Begitu ia bercerita padaku suatu ketika} memimpin dengan penuh wibawa. Tapi seperti halnya ketika menulis, ia tak pernah meninggalkan sisi-sisi yang membuat orang lain tertawa. Cerdas memecah suasana yang kaku.
Pertemuan yang mengesankan. Setidaknya jadi awal yang baik untuk bisa belajar banyak dari mereka. Setidaknya pula, akan menjadi alat untuk membuatku amnesia terhadap masa lalu. Aku memang selalu berharap, sekarang dan masa depan adalah fokus dari setiap pikiran manusia. Dan tentu juga pikiranku. Masa lalu tak punya ruang dimasa depan.
>>>> 
Aku pikir, semua penulis punya idealisme. Seolah menjadi wajar ketika mereka kadang-kadang nampak aneh dengan tampilan dan sikap mereka. Beberapa orang memilih untuk memperlihatkan idealisme mereka dari fisik. Tapi beberapa penulis lain, lebih fokus untuk menunjukkan idealisme lewat kata-kata yang dituliskan.
Pertemuan dengan banyak penulis membuatku banyak belajar untuk memahami orang lain dengan karakter yang bergitu beragam. Mereka adalah miniatur dari kultur keberagamaan Indonesia. Dan para penulis disini, sepertinya tak ada yang saling bermusuhan. Setidaknya, tidak dengan terang-terangan menunjukkan ketidaksukaan.
Penulis senior agaknya memang “tak bisa” angkuh. Kia, dan Jim Sa menunjukkannya. Mereka bersikap sangat baik kepada penulis-penulis baru, bahkan kepadaku, orang baru yang belum bisa dianggap penulis. Mungkin karena setiap hari berkutat dengan renungan-renungan dan introspeksi yang membuat mereka sedemikian rendah hati. Aku tak tau. Yang aku tau, bahwa penulis selalu ingin membaca diri dan membaca keadaan di sekeliling mereka, untuk, setidaknya sedikit menjadi lebih baik.
Aku mulai suka nuansa Jakarta. Nuansa keberagamaan penulis yang tak memicu konflik.  Perbedaan memang tak punya alasan untuk memicu perpecahan. Seperti laki-laki dan perempuan dalam bingkai cinta. Apakah alasan berbeda harus membuat laki-laki dan perempuan tak bisa bersatu?
Untuk sementara, nuansa jakarta cukup menyehatkan otakku. Entah esok hari, atau lusa, atau nanti jika aku sudah mengenal jakart lebih jauh. Aku tak berharap ini seperti pacaran. Di awali dengan bahagia, di akhiri dengan air mata.
Aku tidak sedang curhat masa lalu.
Idealisme canggung. mungkin itu yang sedang dihadapi oleh penulis awal sedang mencari genre yang sesuai dengan keinginan hati dan kemampuan yang dimiliki. Aku pun sama. Dan bersyukur, orang seperti Bang Kia dan Om Jim sa banyak membantu mencarinya.
Tapi kadang aku tidak nyaman dengan mereka ketika diskusi empat mata, tiba-tiba pertanyaan tentang pasangan muncul.
“Sudah punya pacar?”
Atau
“Kapan mau nikah?”
Mungkin itu pertanyaan yang wajar. Tapi aku sendiri belum siap untuk mendapat pertanyaan seperti itu. Ada bekas cerita yang mengendap, dan tak bisa membuatku menikmati cerita yang akan datang.


Selalu aku jawab dengan senyum. Hanya senyum. Apalagi? Hanya itu jurus ampuh yang aku punya untuk menguapkan pertanyaan mereka. 

TO BE CONTINUED....

Sabtu, 31 Januari 2015

Kosong

0



Aku kesepian, ya aku kesepian. Walaupun aku selau berjalan ditengah-tengah kerumunan dengan semua kaki yang selalu berusaha membawaku pada sisi keramaian, semua tangan yang selalu menggapai tangan-tangan yang lain untuk membuatku merasa tak kesepian. Tapi apa yang terjadi padaku? Aku begitu merasa sepi saat ini, kemarin, dan beberapa hari yang lalu. Aku merasa ada suatu tempat di dalam diriku yang begitu membutuhkan suatu keramaian. Aku kesepian.

Selasa, 30 Desember 2014

Desain Rumah Minimalis #1

1
Own Home : Mr.Abd.Wahab
Arsitect       : Thomis Fitan
Program      : SH3D 


Tampak Depan

Living Room

Ruang makan

ruang Tamu

Jumat, 12 Desember 2014

Bukan D'Javu

0


Sebenarnya judul di atas sangat amat menggelitik saya, karena judul di atas sepertinya mencerminkan sebuah lelucon yang terkesan diformalkan oleh penulis. Padahal bukan seperti itu, saya hanya ingin membagi sediit tulisan lewat judul yang rada aneh tersebut. Judul di atas saya tulis saat saya ikut dalam Kemah Bakti Komite Pemuda Lintas Agama (KP-LIMA) yang bertempat di Lemcadika Bojonegoro.
          Kenapa saya memilih sebuah judul seperti itu? hal ini berkaitan saat acara tersebut. Pada saat acara baru memulai waktu pembukaan, saya melihat ada seorang yang sangat menarik perhatian saya. Pertama kali saya merasa D’Javu dengan si gadis itu, saya berpikir “mirip siapa ya?”. Setelah beberapa menit acara berjalan gadis mengambil sebuah tempat duduk paling depan berjarak sekitar dua meter di sebelah kiri saya.

Minggu, 07 Desember 2014

Kembali Ke Timur

0

Bismillahirrohmaanirrohiim
Indonesia menjadi bagian dari sebuah kebudayaan yang agung, budaya yang luhur. Budaya yang memegang prinsip kebaikan sebagai landasan dalam bersikap, berperilaku. Seperti umumnya bangsa-bangsa lain yang tercakup dalam lingkar budaya timur.
Tidak ada yang menyangkal ketinggian nilai dari budaya timur. Akan tetapi, budaya yang luhur tersebut lambat laun mulai ditinggalkan. Orang-orang mulai latah dalam bersikap dan berangsur “lari” meninggalkan budaya timur. Dalih kemodernan dijadikan sebagai alibi untuk tidak lagi menggunakan budaya timur sebagai dasar perilaku.
Ada beberapa landasan yang menjadi pondasi budaya timur dalam bersikap. Sebuah hal yang selama ini mengakar pada diri orang indonesia secara turun temurun. Namun adanya wacana modernisasi dan kemajuan membuat kita kehilangan ruh sebagai sebuah bangsa dan negara yang berpijak di atas budaya timur.
Dibawah ini adalah analis yang munkin bisa menjadi referensi kita untuk menghargai dan menghidupkan kembali budaya luhur dari nenek moyang kita.

Hospitality & Respect for Elders. Maksud dari sifat tersebut menunjukkan bahwa bangsa timur memiliki sifat yang ramah dan sopan serta mudah bersosialisasi dengan bangsa lainnya. Sikap peduli terhadap lingkungan sekitar membuat bangsa timur mudah bergaul berbeda dengan bangsa barat yang cenderung hidup lebih individualis.
Bangsa timur dikenal dengan kesopanannya dan menjunjung tinggi norma kesopanan. Adat yang berlaku di lingkungan bangsa timur sangat berpengaruh terhadap kesopanan orang-orangnya.
Degradasi:  Sesungguhnya kita memiliki budaya ramah dan sopan yang luar biasa. saat ini hal tersebut masih bisa dilihat dari orang-orang yang berada di pegunungan dan pedalaman di jawa yang belum terkontaminasi dengan budaya lain. Mudah bergaul dan tidak mengedepankan negatif thinking menjadi orang yang berinteraksi merasa nyaman dengan sikap yang mereka berikan.
Juga tentang etos gotong royong sebagai bentuk interaksi keakraban dan kekeluargaan yang mulai ditinggalkan. Dewasa ini, orang-orang timur menjadi individualis dalam bertindak. Maka, kekeluargaan yang dibangun pun tidak seakrab ketika segala urusan diselesaikan bersama. Ada sebuah keperdulian kepada orang lain dalam berbagai hal. Sedang saat ini motto yang digunakan adalah “urusanku, urusanku. Dan urusanmu, urusanmu”.

Hardworking & Diligent. Pekerja keras merupan sifat yang tidak bisa dianggap remeh. Bangsa Timur dikenal dengan orang-orangnya yang tidak mudah menyerah, rajin dan bersungguh sungguh saat melakukan sesuatu apalagi yang berhubungan dengan pekerjaan. Karena bangsa timur dikenal pekerja keras dan rajin ini menyebabkan bangsa timur cerdas dan pantang menyerah.
Degradasi: Nyatanya saat ini kesungguhan bekerja orang-orang timur seolah terkikis. Orang-orang dulu tidak pilih-pilih dalam bekerja. Dalam artian, tidak menunggu pekerjaan yang mudah, dengan gaji yang tinggi. Akan tetapi saat ini, orang-orang saling sikut untuk mencari pekerjaan ringan dengan gaji tinggi. Maka, banyak sawah, ladang, dan tanah-tanah yang lebih memilih dijual sebab tidak banyak orang yang memilih menjadi petani. Juga  maraknya orang yang tidak disiplin dalam melakukan sesuatu. Yang dalam istilah Syeikh Mifatahul Luthfi Muhammad al-Mutawakkil, masyarakat kita terserang virus LML (lemas, malas, loyo).
Hal tersebut menunjukkan salah satu degradasi budaya orang timur dalam aspek hardworking dan diligent.

Religius & Well-cultured. Bangsa timur juga terkenal karena keragaman ras dan kebudayaan. Tidak hanya menang kuantitas, hal utama yang menjadi pedoman hidup bangsa timur adalah tradisi dan agama. Karena keterikatan dengan adat dan budaya menjadikan pembatas individu-individu bangsa timur untuk mencapai potensi maksimalnya.
Degradasi: Orang-orang timur didorong oleh kekuatan tradisi dan agama dalam melakukan sesuatu. Ideologi agama dan adat yang berlaku sangat sentral sebagai penggerak orang-orang yang menganut kebudayaan timur. Akan tetapi saat ini banyak orang yang “merongrong” orang timur untuk meninggalkan adat baik yang ada, dengan menggunakan intervensi pencemaran adat agar dikenal dengan image yang buruk. Image ada yang yang buruk tersebut yang akan menjadian masyarakat antipati dan berangsur-angsur meninggalkan adat yang ada.
Begitu pula dengan kekuatan agama yang semakin lama, semakin ditinggalkan. Ini salah faktor terbesar kekuatan bangsa timur tidak lagi muncul dengan skala besar. Seolah agama tidak lagi menjadi prioritas orang timur seperti sedia kala, ketika landasan berperilaku budaya timur berdasarkan ruh agama. Hasilnya, orang-orang timur menjadi lemah, dan tidak punya kekuatan untuk melakukan sesuatu. Sebab agama tidak menjadi pedoman dan landasan dalam bersikap.

Attached to Norms. Sebagai bangsa timur, dikenal amat menjunjung tinggi norma-norma. Bangsa timur cenderung judgemental menyangkut hal-hal yang bertentangan dengan norma.
Degradasi: Kepekaan sosial masyarakat terhadap terjadinya menyelewengan norma di kampung, atau di desa untuk hal ini mungkin masih agak terasa. Sense of society masih hidup. Masih bisa merasakan adanya pelanggaran norma yang dilakukan oleh seseorang. Masih ada banyak orang membicarakan ketika ada yang melaukan sesuatu yang dianggap tidak benar. Pembicaraan keprihatian dan cara penuntasan. Akan tetapi, secara individu. Masyarakat kita, khususnya yang muda, tidak lagi bersedia (tidak punya kekuatan untuk membenting diri) untuk menjaga norma-norma. Penjagaan norma-norma yang tidak maksimal ini dari individu masyarakat bangsa ini secara langsung berperan pada terjadinya degradasi moral.

Strong family Ties. Kebanyakan orang-orang bangsa timur sangat bergantung pada keluarganya. Keluarga menjadi faktor utama dalam hal mempertimbangkan banyak hal seperti urusan jodoh dan karir.
Degradasi: Sekat antara orang tua dan anak sangat berpengaruh dalam terciptanya ketenangan, kedamaian dalam keluarga. Orang-orang timur sangat menjaga keakraban dalam keluarga dengan care satu lain. Keputusan-keputusan yang diambil berdasarkan pertimbangan bersama. Hal-hal yang berhubungan dengan masa depan, karir dan jodoh misalnya. Keluarga menjadi bagian terdekat dari sesorang, dan harus dijaga dari misskomunikasi. Adanya sebuah pengambilan keputusan bersama keluarga adalah salah satu cara agar tidak terjadi kesalahpahaman dan menjadi sebuah penghargaan kepada keluarga sebab dilibatkan dalam urusan yang berhubungan dengan masa depan bagian dari anggota keluarga tersebut.

Back to EAST
Kita harus mulai kembali ke budaya timur yang luhur. Adanya arus budaya barat hanya sekedar menjadi referensi dalam tindakan ketimuran dengan tidak menelannya secara bulat. Ada sebuah filter budaya, ideologi yang mesti dijaga. Bukan berarti segala yang berhubungan barat adalah negatif. Dan filter tersebut menjadi bagian untuk menyaring budaya-budaya buruk, dan menerapkan budaya lain yang positif.
Menjunjung tinggi budaya leluhur yang agung adalah bagian dari rasa syukur kita terhadap Tuhan. Anugerah keluhuran yang diberikan kepada bangsa timur berupa kebudayaan harus dijaga dengan baik, dimanfaatkan dengan maksimal. Ketika kita memilih untuk mengabaikan anugerah tersebut, kita sama halnya menelantarkan sebuah nikmat khusus tersebut (kufur nikmat).
Perlu kekuatan bersama untuk sepenuh hati kembali ke budaya timur. Tidak perlu dengan gugup, dari hal-hal yang kecil, kembalikan budaya ketimuran yang agung tersebut.
Sebenarnya jika dinalar, kita tidak punya alasan sama sekali untuk “hengkang”, imigrasi, pindah, kepada budaya lain. Tidak sama sekali punya alasan untuk memilih budaya barat. Keagungan budaya dimiliki oleh timur, dan tidak dimiliki oleh barat. Jadi, alasan logis manakah yang menjadikan kita tidak memilih budaya timur dan kembali pada budaya yang luhur tersebut?

Salam, Wallahu A’lam

Note:
 {pola hidup bangsa Indonesia yang mulai melenceng dari budaya dan adat bangsa}

“catatan ini adalah resume dari salah satu catatan pengajian di Ma’had Tee Bee (Pesantren Ekolistis Nusantara). Sabtu, 24 Agustus 2013 dalam kajian Al-Hikam. Termasuk yang pertama kali dicatat oleh penulis diawal pengabdian menjadi Mukimer di pesantren yang terletak di Surabaya pusat tersebut. Materi disampaikan oleh Abuya Miftahul Luthfi Muhammad Al-Mutawakkil. Semoga Allah ridho dan melimpahkan keanugerahan yang agung kepada beliau berupa kesehatan, kesejahteraan, dan keluasan ilmu yang bermanfaat. Amiin”



REFERENSI

© 2013 iPRESS. All rights resevered. Designed by Templateism